Tahapan Belajar Kadet sebelum Terbang Solo

Solo flight merupakan ujian yang diberikan kepada para kadet setelah lebih kurang 12 bulan menjalani pendidikan & pelatihan di akademi penerbangan. Keberhasilan seorang kadet dalam solo flight bisa dilihat dari lancarnya take off, cerdasnya menghadapi masalah lingkungan, dan mulusnya landing. Terbang solo akan menjadi momen yang paling mendebarkan bagi para kadet. Pasalnya, kadet akan dilepaskan pertama kalinya untuk melakukan penerbangan sendiri atau tanpa didampingi oleh instruktur penerbangan. Untuk bisa melakukan solo flight, para kadet harus mengikuti tahapan belajar berikut:

Dapatkan pengetahuan di kelas

Dunia penerbangan bisa dibilang sangat awam bagi para kadet. Maka dari itu, mereka akan terlebih dahulu diberikan pengetahuan tentang ilmu penerbangan. Ilmu penerbangan di sini bukan hanya soal cara menerbangkan pesawat saja, melainkan juga tentang pengendalian masalah di udara, memperhitungkan bahan bakar, dan masih banyak lagi. Agar pembelajaran di dalam kelas lebih efektif, biasanya pihak akademi penerbangan membatasi jumlah kadet per kelasnya sekitar 15 siswa. Kelas akademi penerbangan umumnya menggunakan konsep E-learning untuk melancarkan proses belajar mengajar sekaligus meningkatkan kualitas lulusan.

Gunakan simulator

Ketika secara materi para kadet sudah cukup menguasai. Selanjutnya, para kadet akan menggunakan simulator. Simulator merupakan sebuah alat yang memberikan suasana kokpit pesawat sekaligus memberikan gambaran penerbangan mendekati kenyataan. Penggunaan simulator diharapkan agar para kadet bisa mengaplikasikan materi yang telah didapatkan di kelas mulai dari menghidupkan mesin sampai dengan landing. Di samping itu, para kadet juga diharapkan akan lebih siap mengambil tindakan dalam menghadapi berbagai situasi penerbangan yang sebenarnya dengan menggunakan pesawat latih. Dengan demikian bisa meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan ketika kadet terbang sendiri.

Lakukan first flight

Setelah semua tahapan belajar telah dilalui, para kadet akan melakukan first flight. First flight adalah penerbangan dengan pesawat sungguhan tapi para kadet masih didampingi oleh instruktur penerbangan. Di sini para kadet bakal mendapatkan ilmu tentang pengendalian pesawat langsung dengan menggunakan pesawat latih. First flight juga menjadi panduan bagi instruktur penerbangan apakah kadet sudah benar-benar bisa dilepaskan untuk solo flight atau belum. Kalau dirasa belum bisa menghadapi resiko terbang solo, kadet akan terus lakukan circuit training.

Terbang solo harus dilakukan oleh para kadet jika ingin mendapatkan lisensi penerbangan. Akan tetapi, terbang solo tidak bisa dilakukan asal-asalan mengingat sangat beresiko. Untuk bisa terbang solo, para kadet harus memiliki minimal 60 jam terbang. Di samping itu, para kadet juga mendapatkan pantauan langsung dari instruktur penerbangan tentang kemampuan terbangnya. Jika dirasa masih minim atau belum siap, instruktur tidak ingin ambil resiko dengan melepaskannya terbang sendirian. Mereka harus terus didampingi terbang dengan pesawat latih sampai para kadet dianggap pantas untuk terbang sendiri.

Nah, bagi kadet yang diperbolehkan melakukan terbang solo, pastikan mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang mulai dari mental hingga kemampuan. Tidak ada salahnya juga tanya-tanya pengalaman teman yang sudah melakukan solo flight. Agar usaha yang dilakukan semakin berkah, jangan lupa berdoa agar selamat & berhasil mendaratkan pesawat latih dengan mulus 😀 Good luck 😀

Mengapa Jadi Pilot Harus Tinggi?

Beragam seputar dunia penerbangan. Salah satunya mengenai tinggi badan pilot. Hampir sebagian besar cadet tidak lulus seleksi karena masalah tinggi badan. Masalah tinggi badan pilot sangat berpengaruh terhadap kemampuan terbang karena berkaitan erat dengan sistem kerja.

Baik ketika akan mendaftar jadi pilot ataupun juga hanya mengenal profesinya lebih dekat, syarat tinggi badan pilot terkadang menjadi suatu pertanyaan “mengapa harus memiliki tubuh yang tinggi bahkan lebih dari bidang pelayaran, kemiliteran, dan kepolisian”. Sekalipun tugas pilot hanya menerbangkan pesawat namun untuk ukuran fisik ternyata tak kalah diprioritaskan. Ternyata ada beberapa hal yang melatarbelakangi persoalan ini, sebagai berikut:

Kaki harus menyentuh rudder pesawat

Ketentuan panjang kaki untuk masuk sekolah pilot umumnya adalah 100 cm atau 1 m. Hal ini memungkinkan agar pilot dapat mengendalikan sistem operasi pesawat dengan baik di mana kaki harus menyentuh rudder pesawat. Rudder merupakan bidang kendali untuk melakukan belok kanan atau kiri. Dengan menggunakan rudder pedal sistem pesawat tersebut dapat dikendalikan. Cara kerja sistem rudder kalau untuk kendaraan darat roda empat adalah gas atau rem mobil.

Tangan mampu bekerja di kokpit dengan baik tanpa ada kesulitan

Selain panjang kaki yang harus menyentuh rudder pesawat seperti halnya ketika landing, tinggi badan juga berpengaruh dengan kinerja tangan yang mampu mencapai bagian pesawat dengan mudah. Pilot dapat bekerja dengan baik dalam mengoperasikan pesawat tanpa adanya kesulitan. Dengan tinggi badan yang ideal pastinya akan lebih mudah bagi pilot untuk mengatur lajunya penerbangan.

Kenyamanan dan keselamatan dalam penerbangan

Berdasar kedua poin di atas maka tinggi badan pilot sangat mempengaruhi kenyamanan dan keselamatan penerbangan karena semua sistem di dalam kokpit harus dijalankan dengan sebaik mungkin, terutama bergerak cepat pada saat mengalami segala insiden seperti cuaca buruk yang menyebabkan guncangan dahsyat.

Produsen pesawat ialah dari luar negeri. Namun, bukan berarti orang luar (yang ketinggian badannya tidak sama dengan orang Indonesia) dengan sengaja memproduksi kokpit sesuai dengan kebutuhan mereka. Hal ini dapat dilihat dari kursi pilot di kokpit pesawat dapat diatur sendiri sesuai dengan kenyamanan pilot dalam mengemudikan pesawat, baik itu ketinggian maupun kerendahan , maju ataupun mundur. Namun memang, ketinggian badan adalah hal penting untuk dapat bekerja secara optimal tanpa mengalami banyak kesulitan.

Tinggi badan pilot untuk pria yaitu 170 cm, sedangkan wanita 160 cm, terkadang menjadi salah satu penghambat untuk mengejar cita-cita sebagai pilot. Bila ketinggian badan merupakan rintangan buat Anda untuk mendaftar di sekolah penerbangan, maka ada dua cara yang bisa dilakukan untuk menambah tinggi badan, yaitu dengan cara berolahraga dan juga mengkonsumsi suplemen pendukung. Jenis olahraga yang bisa dilakukan di antaranya adalah lari, berenang, skipping, basketball, dan gantung atau angkat badan. Olahraga yang dilakukan perlu disesuaikan dengan kemampuan tubuh agar dapat dilakukan dengan maksimal dan tidak membahayakan. Demikian pula untuk pengkonsumsian suplemen pendukung  sebaiknya dipastikan baik untuk kesehatan tubuh.